Rumah-Rumah Es Iip Pasoloran)

Posted: 12 Januari 2012 in BANK Karya, Naskah Drama
Tag:,

RUMAH-RUMAH ES

SEBUAH NASKAH REPORTOAR

Naskah dan sutradara : iip pasoloran

Meneropong peradaban yang telah dibangun oleh manusia kekinian, akan menyuguhkan kita sebuah tontonan yang sangat menggemaskan sekaligus MIRIS. Manusia yang pada awalnya menjadi pusat perhatian bumi, kini mulai kehilangan identitas kemanusiaannya. Dia telah menjelma menjadi setumpuk mesin dan dipaksa untuk memiliki masa kadaluarsanya. Hedon dan pragmatis yang dikawal oleh kapitalisme dan sekularisme telah menjadi bumerang bagi keberadaan manusia dalam proses pencarian kemanusiaannya, yang pada akhirnya menjadikan dia hantu-hantu zaman yang kasat mata.

Manusia punya potensi untuk menjadi manusia bahkan bukan manusia sekalipun

 BABAK I      

Panggung terlihat gelap dan sunyi, hampir tak ada kehidupan. Perlahan-lahan terdengar suara-suara yang memecah sunyi seolah-olah mencoba mengantar kita pada proses penciptaan. Ditengah-tengah panggung ada setumpuk tanah yang menjadi awal dari seluruh proses penciptaan entitas yang bernama manusia. Kejadian itu di diirngi dengan musik kecapi, kemudian semua kembali gelap. Dalam kegelapan tiba-tiba terlihat kilas cahaya yang semakin lama semakin banyak dan bergerak cepat.

Kilatan cahaya itu kemudian menghilang, lalu keadaan kembali menjadi gelap dan sunyi. Sesaat kemudian terlihat kembali cahaya yang muncul dan menerangi bagian-bagian tubuh manusia yang terus bergerak mencari potensinya masing-masing. Pencarian kemudian berlanjut hingga sosok-sosok itu bergabung menjadi sempurna.

“ Aku menjadi “

Semua sosok-sosok tadi berpencar dan mulai bermain. Semuanya tampak tenang dan damai. Dan mereka sangat menikmati keberadaan mereka sebagai anak manusia. Lalu mereka beranjak besar dan mulai memahami kebutuhan dasar demi kelangsungan hidup mereka. Bekerja adalah salahsatu tuntutan itu, dan mereka melakukan semuanya dengan kesungguhan hati.

BABAK II

Terdengar suara-suara langkah berjalan yang kemudian semakin cepat dan akhirnya berlari. Tiba-tiba suara-suara itu berhenti. Suasana kembali menjadi sunyi hanya suara desah nafas memburu yang jelas terdengar. Dan sebuah sosok mulai berjalan dan terkadang berlari.

Sosok A          : Kita sudah berjalan, berlari mengikuti peradaban, tidakkah kita lelah?

Sosok B           : (tertawa cekikikan) lelah?

Tubuhku tidak lagi mengenal lelah. Sekarang atau besok aku akan semakin tinggi dan tinggi sampai kukalahkan langit.

Kemudian dua sosok masuk sambil membuang-buang piring. Lalu mereka mulai memainkan piring masing-masing sesekali membuang. Tampak mereka memperebutkan pring yang mereka pegang. Sesaat kemudin muncullah dua sosok lain. Sosok yang satu berjalan sambil mengoyang-goyangkan pinggulnya, dan sosok yang satu berjalan sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.

Sosok C           : Hukum apa yang bisa mengikat aku? (sambil menoleh kearah sosok yang satu.                                                                                                                                                                                                                                                              Kemudian sosok itu merespon dengan mengangkat kedua bahunya)

Lalu sosok manusia-manusia yang lain mulai bergerak dengan gerakan dan menjadi icon manusia robot yang sangat bernafsu untuk bekerja, mencari kemudahan-kemudahan hidup. Kemudian mereka berubah menjadi binatang-binatang buas dan rakus, dan akhirnya kembali menjadi sosok robot.

Semua sosok lalu tertawa, kemudian bersedih dan tertawa kembali.

Muncul dua sosok lain. Yang satu membawa sebuah sapu dan yang lainnya membawa sampah yang kemudian di sebar disana-sini. Sosok yang menenteng sapu lalu mengikutinya dari belakang dan membersihkan sampah-sampah yang ada. Tetapi kemudian yang menenteng sapu memposisikan dirinya di depan dan membersihkan lantai yang tidak ada sampahnya. Sosok yang membawa sampah tetap saja asyik membuang sampahnya.

Kemudian muncul beberapa sosok yang membawa koke’-koke dan membunyikannya berjalan tidak beraturan. mereka berjalan sambil bertabrakan tetapi tetap tidak memperdulikan disekelilingnya. Semua asyik dengan urusan sendiri.

BABAK III

Perlahan-lahan terlihat sosok yang berada di atas pasak. Badannya yang tadi tegap kini mulai bergoyang kekiri dan kekanan seperti berusaha menimbang kedua bingkai yang ada di kedua tangannya.

“peradaban telah menjanjikan segala bentuk kemudahan-kemudahan hidup dan sekaligus menjebak dengan kenikmatan-kenikmatan. Aku lelah bertarung di tengah badai zaman yang terus menggerogoti tubuhku yang semakin renta. Bolehkah sejenak kuistirahatkan mata yang terus melihat tingkah laku anak manusia?. Sekarang aku mulai sangsi atas kemulian kalian.”

Kemudian tampak sebuah sosok muncul dan membawa obor/lampu badai dan berjalan kearah sosok yang berada di atas level.

“Kita sedang mencicipi nikmat sekaligus busuk dari apa yang telah di perbuat. Lalu bagaimana kita menyikapinya?. Peradaban muncul bukan untuk dimusuhi pun bukan untuk dihindari tapi ditaklukkan.”

Sosok itu kemudian menyalakan kemudian mematikan semua lilin yang ada di sekeliling sosok yang berdiri di atas es batu. Dia hanya bersenandung.

BLACK OUT. SELESAI

makassar, 15 juni 2008

Iklan

Terimakasih Buat Kunjungan Teman-teman semua..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s