FILOSOFI KUDHI : Senjata Khas Banyumas

Posted: 18 Januari 2012 in Berbicara Lokalitas
Tag:,

” Awas-awas kae ana kudhi lagi mlaku ” ” Endi kudhine sing mlaku ” ” Kae kudhine lagi maring ngeneh ” ” Oooalah, kae tuli wong lagi meteng ”

Terjemahannya:

” Awas-awas itu ada Kudhi ( Senjata khas Banyumas: red ) berjalan ” ” Mana kudhi yang sedang berjalan ” ” Itu sedang menuju kemari ” ” Oooalah itu kan orang yang sedang hamil ”

Kudhi bagi masyarakat Banyumas adalah salah satu perkakas yang serba guna, selain juga sebagai senjata tajam yang digunakan untuk melindungi diri dari bahaya yang mengancam. Dan sebagai sub culture masyarakat Jawa, masyarakat Banyumas (dan seperti kebanykan masyarakat Jawa) didalam kesehariannya selalu menggunakan simbol-simbol atau lambang. Simbol atau lambang tersebut bisa berbentuk benda, tulisan, ucapan maupun upacara dan kesenian, salah satunya Kudhi. Kudhi yang dianggap memiliki daya linuwih ini hanya dipakai sebagai senjata jimat. Sebab kudhi semacam ini jarang dan sangat sulit didapat. Masyarakat Banyumas sering menyebutnya dengan Kudhi Trancang.
Banyak orang dari luar Banyumas yang ketika pertama kali melihat kudhi terheran-heran pada bentuknya yang aneh. Mereka selama ini hanya tahu bentuk-bentuk senjata khas suatu daerah seperti Kujang dari Sunda, Rencong dari Aceh, atau Clurit dari Madura. Tidak terlalu salah memang, karena selama ini sangat jarang identitas kudhi dikenalkan sebagai senjata khas Banyumas. Padahal secara fungsi boleh dibilang kudhi memiliki keungulan dibanding senjata-senjata tersebut diatas.
Ada beberapa macam kudhi yang ada di Banyumas yaitu Kudhi Biasa atau yang sering dipakai untuk segala keperluan. Kudhi ini memiliki ukuran panjang 40 cm dan lebar 12 cm. Kemudian Kudhi Melem, kudhi yan pada bagian ujungnya seolah-olah berbentuk ikan melem. Ukurannya lebih kecil kira-kira 30 cm panjangnya dan lebar 10 cm. Kudhi ini berfungsi untuk membuat bilik dan pagar rumah. Dan yang terakhir Kudhi Arit, yaitu jenis arit yang pada bagian tengahnya mempunyai weteng (perut). Jenis ini dapat dipakai antara lain untuk keperluan mencari kayu bakar, ramban (mencari dedaunan) atau untuk nderes (mencari nira). Ukuran kudhi ini kira-kira 35 cm panjangnya dan 10 cm lebar perutnya.

Cermin masyarakat

Bagian-bagian kudhi terdiri dari ; bagian ujung, perut, karah serta gagang. Bagian-bagian tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat pemotong semata, namun merupakan cermin dari karakter orang Banyumas yang sesungguhnya. Artinya jika kita simak secara bagian-perbagian. Ujung adalah nilai egaliterian yang ada pada masyarakat Banyumas, terhadap segala bentuk budaya lainnya. Hal ini ditunjukan pada bentuk ujung kudhi yang sama dengan senjata-senjata seperti golok, pedang dan semacamnya dari daerah lain. Bentuk perut menunjukan bahwa manusia hidup tidak hanya untuk memenuhi nafsu belaka namun ada hal yang lebih penting yaitu berusaha dan bekerja. Kemampuan perut kudhi sangat besar untuk dapat menyelesaikan pekerjaan yang berat-berat seperti membelah atau memotong obyek yang besar. Karah disini menyimbolkan bahwa penampilan (baca: materi) ternyata tidak bisa dijadikan sebagai acuan baik buruknya sifat sesorang. Hal ini dimaksudkan bahwa tidak semua karah yang bagus dan berukir akan memiliki perut dan ujung yang tajam (baca: baik). Sedangkan gagang merupakan pegangan dimana orang Banyumas didalam menyikapi hidup harus punya keyakinan yang jelas.
Justru orang-orang kecil seperti petani, buruh, tukang tegor atau tukang nderes bekikuk akan sangat bangga jika dapat menggunakan kudhi pada setiap pekerjaannya. Sangat ironis memang. Kudi sebagai cermin pada kesamaan derajat, etos kerja tinggi, tidak silau materi dan sikap punya perinsip, justru tidak pakai oleh para pejabat dan orang penting di Banyumas. Padahal bila kita coba amati tak ada yang terlalu berlebihan fungsi dari sebuah keris. Keris paling hanya sebagai perhiasan pelengkap semata. Atau mungkin sebagai alat pembunuh sebagaimana Ken Arok membunuh Tunggul Ametung.
Kudhi sebagai cermin masyarakat Banyumas. Hal ini terdapat pada ungkapan Kudhi Ilang Karo Karahe. Artinya sesuatu yang hilang pasti akan kembali pada pemiliknya. Setting historis dari filosofi ini berkaitan dengan sejarah pindahnya R. Adipati Mertadireja III dari Purwokerto ke Banyumas. Pada saat itu Kabupaten Purwokerto dan Banyumas masing-masing berdiri sendiri. Yang kebetulan pada tahun 1878 Residen Banyumas C. De Mooenburgh, berselisih dengan Bupati Banyumas R.M. Tmg Tjakranegara II. Karena perselisihan itulah maka Bupati Banyumas mengundurkan diri. Akhirnya R. Adipati Mertadireja III, Bupati Purwokerto pindah menjadi Bupati Banyumas. Disini dijelaskan juga bahwa kudhi adalah jabatan residen sedangkan karah adalah jabatan bupati. Dan sing duwe adalah R.M.T Mertadireja III. (R. Arya Wiriaatmadja, Babad Banyumas, Diteruskan oleh R. Poerwasoeprojo. Purwokerto: De Boer. 1932 ).

Kudhi, Islam dan Mentalitas

Asal muasal kudhi menurut mitos hampir sama dengan penciptaan wayang kulit oleh para wali. Wayang kulit merupakan kreasi dari para wali penyebar Agama Islam. Karena sepintas lekuk bentuk perut kudhi mirip dengan bentuk Kata Allah, maka kudhi identik dengan perkembangan Islam di Banyumas Hal yang sama juga terdapat pada bentuk muka dan tangan serta kaki wayang-wayang Pandawa. ( M.Koderi, Banyumas Wisata Dan Budaya. 1991 ).
Ditinjau dari tempat pembuatannya, kudhi berasal dari daerah yang bernama Desa Pasir. Karena Desa Pasir merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam di daerah Banyumas. Hal ini menunjukan bahwa kudhi mempunyai arti lain sebagai lambang, atau simbol-simbol makna religius. Kudhi juga memiliki filosofi yang lain seperti Kudhi Pacul Sungan Landepa. Kudhi dan cangkul adalah alat untuk bekerja. Maksudnya ialah dalam mencapai suatu tujuan atau mencari pekerjaan tidak akan melakukan hal-hal yang menyimpang.
Sebagai alat bekerja maka kudhi memerlukan tempat yang tidak menganggu lancarnya pekerjaan seseorang. Oleh karenanya ada tempat untuk meletakannya secara khusus. Tempat ini biasa disebut dengan Kethoprak atau Korakan atau Tha’ kolak. Kethoprak ini biasanya digantung di belakang pada ikat pinggang. Sehingga jika orang yang memakainya berjalan maka akan terdengar suara yang khas seakan-akan berbunyi ” korak-korak”. Inilah bentuk kejujuran, keberanian dan sportifitas orang Banyumas sebagai tanda bila ia sedang membawa senjata. Tidak seperti orang membawa senjata lainnya yang selalu diselipkan atau disembunyikan dibalik bajunya, untuk kemudian ditikamkan ke orang lain. Mungkin orang Banyumas tidak!…

sumber :
http://notesmall.blogspot.com/2010/03/filosofi-kudhi-senjata-khas-banyumas.html
http://dir.groups.yahoo.com/group/ba…age/5065?var=

Iklan
Komentar
  1. achmad berkata:

    kulo sampun nate madosi kudhi teng peken (Pasar Wage) rencanane badhe kula bekta teng Jakarta.Tapi mboten sios,wekdal semanten regine radi awis.Pancen sekeca dedamelan ngangge kudhi.Mugi2 KUDHI saged lestari.

Terimakasih Buat Kunjungan Teman-teman semua..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s