Marginalisasi Seni Jemblung di Banyumas

Posted: 18 Januari 2012 in Berbicara Lokalitas

Kiriman Saptono, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

(http://www.isi-dps.ac.id/berita/marginalisasi-seni-jemblung-di-banyumas)

1.Latar Belakang

Banyumas merupakan wilayah eks-Karesidenan, meliputi Kabupaten: Banjarnegara, Banyumas, Cilacap dan Purbalingga. Dalam ini tidak hanya meliputi kewilayahan yang bersifat geografis, ekonomi, sosial, historis, tetapi juga budaya yang masing-masing memiliki keterikatan satu dengan yang lainnya. Ikatan kesamaan itu memiliki konsekwensi bagi keselarasan dalam pembangunan yang satu dengan lainnya, saling mengikat, saling mendukung dan saling mengisi (Surono, 2002)

Masyarakat Banyumas juga cukup dikenal kalau logat bahasa (dialek) bicaranya ngapak-ngapak. Misalnya  lumrahnya orang Jawa Tengahan (Solo, Jogja, Semarang, dan sekitarnya) berbicara ‘sopo’ baca ‘sopo’ padahal tulisannya ‘sapa’artinya ‘siapa’, dan anehnya masyarakat Banyumas sendiri tidak tahu persis apa itu artinya ngapak-ngapak. Intinya logat bahasa dan budaya masyarakat Banyumas apa adanya (blakblakan), membaca dalam kontek bahasa daerah (Jawa) sesuai dengan tulisannya. Misalnya berbicara ‘sapa’ baca ‘sapa’ karena tulisannya ‘sapa’ dan artinya ‘siapa’.

Budaya “Banyumasan” meliputi wilayah eks-Karesidenan Banyumas, sampai kabupaten Kebumen. Dengan demikian tidak mengherankan kalau dialek dan budayanya ada yang sama, karena secara historis daerah Gombong, Karanganyar, dan Kebumen pernah masuk wilayah Banyumas. Sedangkan akhiran kata “an” di belakang nama daerah (Banyumas) adalah untuk lebih mempersempit cirikhasnya seni tradisi daerahnya, di luar tembok keraton (kesenian rakyat?)

Banyumas juda daerah yang cukup kaya dengan ragam dan bentuk keseniannya, atau banyak kalangan seniman di Jawa sering menyebutnya dengan kesenian Banyumasan. Adapun jenis-jenis kesenian yang pernah maupun masih hidup di daerah ini, diantaranya: Angguk, Aplang, Baladewan, Begalan, Braen, Buncis, Dagelan, Dames, Daeng, Ebeg, Lengger, Calung, Gending Banyumasan (karawitan), Manongan, Pedalangan (wayang), Rengkong, Sintren, Ujungan, dan Jemblung  (Soedjarwa Soedarma, dalam Saptono, 2004, p.21-30). Dari sekian jenis kesenian tersebut di atas, saat ini juga banyak jenis-jenis kesenian yang baru muncul dan cukud digandrungi oleh masyarakat pendukungnya. Namun demikian dalam ini penulis ingin membahas pada salah satu jenis kesenian  yaitu Seni Jemblung.

Jemblung adalah salah satu bentuk kesenian tradisional dari daerah Banyumas yang biasanya dimainkan oleh empat orang pemain, dan pertunjukannya mengandalkan kemahiran bertutur. Istilah ‘Jemblung’ sampai saat ini tidak ada yang mengetahui secara pasti.  Seni dan Budaya Banyumas (bagian 3) DISBUDPAR Banyumas, dalam SUARA MERDEKA bahwa kata ‘Jemblung’ merupakan jarwo dosok yang berarti jenjem-jenjeme wong gemblung (rasa tenteram yang dirasakan oleh orang gila). Pengertian ini diperkirakan bersumber dari tradisi pementasan Jemblung yang menempatkan pemain seperti layaknya orang gila. Sumber lain menyebutkan istilah ‘Jemblung’  berasal dari kata ‘gemblung’ yang artinya ‘gila’. Pengertian ini  cukup bisa diterima, karena saat pertunjukan berlangsung sang dalang berakting seperti orang ‘gila’ (Petra Christian, dalam Genta Campus Magazine University Surabaya).

Pertunjukan Jemblung merupakan bentuk sosio drama yang mudah dicerna masyarakat luas. Pada prinsipnya pertunjukan ini dapat dipentaskan dimana saja disegala tempat, seperti di balai-balai rumah atau di panggung. Para pemain Jemblung yang hanya melibatkan 4 (empat) orang seniman, dalam pementasannya tanpa properti artistik, sangat dibutuhkan kemahiran dan kekompakannya didalam menghidupkan suasana pertunjukan. Dalam pertunjukannya, pemain jemblung duduk di kursi menghadap sebuah meja yang berisi hidangan yang sekaligus menjadi properti pementasan dan sebagai santapan mereka saat pertunjukan berlangsung. Semua hidangan ditaruh diatas tampah, kecuali wedang (minuman; kopi, teh, air putih)  ditaruh diluar tampah . Hidangan tersebut antara lain: jajan pasar yaitu aneka kue yang biasa dijual di pasar tradisional, kemudian ada buah pendem seperti jenis ubi-ubian yang sudah dimasak, pisang, nasi gurih, dan minuman; wedang teh, kopi, dan wedang bening (air putih).

Marginalisasi Seni Jemblung di Banyumas selengkapnya

Untuk Memberikan komentar gunakan Fasilitas Forum > Berita. Fasilitas ini dapat diakses melalui alamat: http://forum.isi-dps.ac.id

 

Iklan

Terimakasih Buat Kunjungan Teman-teman semua..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s