Seniman Banyumas Deklarasikan Aku Cinta Budaya Banyumas

Posted: 18 Januari 2012 in Berbicara Lokalitas
Tag:, ,
Tribun Jogja – Senin, 28 November 2011 23:42 WIB

Reporter Tribun Jogja, Hanan Wiyoko

TRIBUNJOGJA.COM, PURWOKERTO – Puluhan budayawan dan seniman lokal Banyumas mendeklarasikan gerakan ‘Aku Cinta Budaya Banyumas’. Gerakan ini muncul sebagai upaya untuk melestarikan kebudayaan Banyumasan yang terdesak budaya urban.

Budayawan Banyumas, Ahmad Tohari beranggapan perlunya ada pembaharuan gerakan budaya agar kebudayaan Banyumasan tidak tergilas modernisasi.

“Harus selalu ada inovasi, biar bisa menjadi kesenian untuk showbiz atau pertunjukan,” katanya saat menjadi pembicara dalam ‘Gendu-gendu Rasa Nguri-uri Budaya Banyumasan’, di Gedung Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Senin (28/11) siang.

Ia mencontohkan, seni wayang harusnya bisa mengikuti momentum. Seperti, wayang dengan lakon Gayus Tambunan atau lakon Ariel-Luna Maya pasti akan banyak ditonton masyarakat karena ada unsur kebaruan.

“Penekanannya pada penggunaan dialek asli Banyumasan,” kata penulis novel ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ itu.

Ia menambahkan kebudayaan Banyumas merupakan kebudayaan agraris yang bercirikan cablaka dan sederajat. Ia mencontohkan, perempuan Banyumas berbeda cara berjalannya dibanding perempuan Solo. Perempuan Banyumas menurutnya berjalan tegas, lugas, dan bertutur cepat.

Gambaran masyarakat Banyumas juga bisa dilihat dari seni tari, rupa, dan seni ritual lainnya. Mereka, kata dia, mengembangkan budaya yang selaras dengan alam. Ritual dengan mitologi tertentu, menjadi cirri utamanya.

Agar tetap bertahan, imbuhnya, kesenian lokal tradisional seperti lengger, cowongan, ebeg, harus bisa memodifikasi diri. Menambahkan unsur modernitas, kata dia, juga perlu dilakukan.

Budayawan lainnya, Titut Edy Purwanto menambahkan, budaya Banyumasan merupakan budaya yang penuh cinta kasih. Ia mengaku mempelajari budaya Banyumas yang penuh ritual dan kadang dianggap mistis oleh orang lain.

“Padahal budaya Banyumas mengajarkan cinta kasih terhadap sesama manusia dan alam sekitar,” katannya.

Menurutnya, berbicara budaya bukan berarti bicara tentang masa lalu. Ia sepakat, kesenian yang mengandung makna mistis harus bisa digubah ulang agar bisa diterima masyarakat modern saat ini.

Dosen Ilmu Budaya Dasar FISIP Unsoed Purwokerto, Bambang Widodo pada akhir acara menyatakan pendapatnya perlunya acara tersebut ditindaklanjuti dengan acara lain serta memberikan rekomendasi bagi pengembangan bidang kesenian dan budaya lokal di Banyumas. (*)

Iklan
Komentar
  1. tatawarna berkata:

    good..slam buat orang ngapak

Terimakasih Buat Kunjungan Teman-teman semua..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s