Napak Tilas Teater Kampus

Posted: 22 Januari 2012 in Forum Gagasan

Padang Ekspres • Minggu, 22/01/2012 12:52 WIB • (***) • 47 klik

http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=22004

Salah satu pertunjukan Teater Cabang, pimpinan Zelfeni Wimra, yang lahir dari sp

Teater Utama Taman Budaya Sumatra Barat menutup akhir tahun 2011 dengan acara penyerahan penghargaan kepada pemenang Alek Teater 2011 yang diselenggarakan pada tanggal 7-9 desember 2011.

Berbagai kelompok teater ikut ambil bagian dalam ajang yang memang dikemas dalam bentuk festival, sebanyak 12 kelompok teater berupaya untuk menyajikan pementasan teater terbaik mereka.

Mulai dari teater pelajar ( teater INS Kayu Tanam, teater SMA 3 Payakumbuh, Teater SMA Pertiwi 2 ) teater kampus, ( Teater Langkah FIB Unand, Teater Rumah Teduh UKS Unand, Teater Oase UNP, Teater Wadah STKIP PGRI Lubuk Alung, Teater Khatulistiwa UPI ) kampus teater ( Teater Sambilan Ruang ISI Padang Panjang, Teater Roda ISI Padang Panjang ) hingga teater umum atau yang lebih sering kita sebut dengan teater independent ( Teater Nan Tumpah ).
Eksistensi dan Militansi Teater Kampus
Lima peserta Alek Teater 2011 berasal dari teater kampus, hampir dari setengahnya memang. Secara statistik sebenarnya sudah cukup mewakili kebaradaan teater kampus pada perhelatan teater tersebut, namun yang menjadi pertanyaan besar adalah kemana teater kampus yang lain? Seperti, Teater Imam Bonjol (IAIN Iman Bonjol), Teater Marawa STIE Dharma Andalas, Teater Senja STMIK Jayanusa, Teater 09 STKIP PGRI Padang, Teater Cermin FIB Unand, Teater Studio Merah FH Unand, Teater Proklamator UBH, Teater Detik FISIP Unand dan Teater Katarsis Fakultas Psikologi UNP Bukittinggi.
Sumatra Barat yang terkenal dengan budaya, satra dan seni yang khas ternyata belum cukup matang untuk diracik oleh teater kampus yang sejatinya hanya merupakan sebuah kegiatan ekstrakurikuler yang dibungkus dalam bentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Namun apakah pelaku teater kampus memandang bahwa bergiat teater hanya sekedar hobi dan mengisi kekosongan waktu setelah bergelut dengan teori dan rumus? Bahkan melupakan proses kreatif serta hakikat teater itu sendiri. Sudah seharusnya teater kampus memaksimalkan eksistensi mereka dalam dunia perteateran, bukan hanya sekedar  berani dengan lantang berkata “ bahwa kami ada” melainkan dengan  proses dan karya.
Anton Sudibyo mengatakan “apakah teater kampus harus selalu hidup, berproses, dan berkembang di kampus”? sesungguhnya pertanyaan besar itu telah terjawab dengan adanya event-event berskala nasional seperti Festival Teater Mahasiswa nasional ( Festamasio ) yang digagas oleh teater Yupa Universitas Mulawarman di Samarinda pada tahun 2001, Temu Teater Mahasiswa Nusantara (TEMU TEMAN) yang diprakarsai oleh Teater Tangan Universitas Muslim Indonesia di Makassar pada tahun 2002. Sebuah pergerakan yang sangat militan diperlihatkan oleh teman-teman dari Teater Yupa dan Teater Tangan, mengingat mereka hanyalah sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bisa mandiri tanpa adanya campur tangan pemerintah, dalam hal ini yaitu: DIKTI, BPSMI bahkan dari Universitas sekalipun.
Ada apa dengan  teater kampus kita hari ini ?
Jika ditelusuri, langkah awal teater kampus kita unjuk gigi dilevel Nusantara bermula pada tahun 2009, dengan berpartisipasinya teater Oase UNP pada TEMU TEMAN VII di Singaraja Bali, ditambah lagi dengan lolosnya teater Rumah Teduh UKS Unand sebagai finalis dalam ajang FESTAMASIO IV di Jakarta pada tahun yang sama. Dua kelompok teater  kampus ini selalu menjaga eksistensi dan konsistensinya sebagai tombak teater kampus di Sumbar, tapi ada apa dengan teater kampus kita hari ini? Lebih dari 10 teater kampus kita seakan lumpuh dan tak mampu lagi untuk berjalan dengan hakikat teater itu sendiri. Asumsi yang berkembang adalah bahwa teater kampus nyaris tidak mempunyai visi dan misi yang jelas, baik dari proses manajemen produksi hingga pada permasalahan-permasalahan teknis seperti: keaktoran, vokal, gesture, bloking, moving, penguasaan panggung dan lainnya, serta persoalan organisasi yang mengikat dan harus melewati urusan birokrasi yang rumit.
Teater kampus sepertinya sedang terjangkit virus ganas. Proses instan menjadikan para penggiat teater kampus kurang bereksperimen dan tidak berani untuk keluar dari pakem yang ada. Hal lain yang tidak disadari pegiat teater kampus adalah minimnya kemauan untuk mendatangkan seniman–seniman teater senior sebagai pembina, pelatih maupun tenaga pengajar. Sebut saja Ibrahim Ilyas (teater imaji), Suhendri (teater noktah), Della Nasution (Komunitas seni intro), S Metron (Teater Ranah), Tya Setiawati (Teater Sakata), Yusril (Teater Hitam Putih), dan seniman teater lainnya yang cukup mumpuni. Bahkan Sumatra Barat mempunyai ISI Padang Panjang yang merupakan Institut Seni satu-satunya di Sumatra yang bisa dijadikan labor teater oleh aktivis teater kampus.
Salah siapa, dan apa yang harus dibenahi ?
Jika harus dijawab, barang tentu pertanyaan diatas mempunyai banyak jawaban, dan pastinya akan terjadi saling tuding siapa yang salah dan siapa yang benar. Pada dasarnya kita tidak usah meributkan mencari siapa yang harus menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi teater kampus, sudah saatnya ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Para teaterawan muda dan senior seharusnya saling bahu-membahu untuk membangkitkan geliat teater kampus di Sumatra Barat. Begitupun pihak-pihak yang terkait dalam proses kreativitas teater kampus terutama Universitas dan Intitusi tempat mereka bernaung, bergiat, berproses dan berkarya, agar tidak terdengar lagi permasalahan yang klasik yaitu sumber dana yang minim. Karena walau bagaimanapun mereka tetap akan memakai atribut almamater kampus kebanggaannya.
Sejatinya teater kampus tidak bergerak sendiri-sendiri, melainkan secara kolektif untuk membangkitkan gairah teater, seperti yang pernah dilakukan pada tahun 2007 silam. Teater Rumah Teduh UKS Unand, Teater Oase UNP dan Teater Imam Bonjol IAIN Imam Bonjol pernah duduk bersama dan menggagas sebuah forum diskusi yang bernama Temu Ramah Teater Kampus. Forum diskusi tersebut dikemas dengan bentuk saling berkunjung secara bergantian untuk mementaskan karya masing-masing dan kemudian membicarakan permasalahan-permasalahan serta harapan teater kampus kedepannya. Awal perjalanannya Temu Ramah Teater Kampus berjalan sesuai dengan konsep yang semestinya dan berhasil membawa teater kampus lainnya ikut bergabung, namun seiring waktu yang berjalan banyak generasi dan kader-kader berikutnya tidak memahami hakikat forum tersebut, sehingga hanya menjadi ajang ketemuan dan duduk-duduk bersama tanpa mengerucutkan sebuah persoalan yang sedang dihadapi teater kampus, dan Teater Senja STMIK Jayanusa menjadi tempat pelabuhan forum diskusi  pada bulan Juli 2010.
Teater kampus di ranah minang seharusnya banyak belajar dari saudara mereka di kota lain yang telah lebih dulu menciptakan wadah atau komunitas teater kampus yang bisa menjadi sebuah kekuatan pergerakan serta perjalanan teater kampus seperti KOTAK Medan, STA Aceh dan KOTEKA Jakarta. Inilah yang mesti dibenahi, karena setiap persoalan selalu ada jalan keluar, bahkan persoalan yang berat sekalipun dapat dicarikan solusinya secara bersama dan secepatnya bisa melihat haluan yang jelas kemana arah perjalanan teater kampus sebenarnya.***

 

Oleh: Rizki Aprima Putra

[ Red/Redaksi_ILS ]

Iklan
Komentar
  1. sri narti hamzah berkata:

    ada nggak yaa dokumentasi penampilan bbrpa teater d Unp skitar thun 2009-2010???

Terimakasih Buat Kunjungan Teman-teman semua..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s